Status Siaga Karhutla hingga 31 Oktober, Patroli Malam di Kalsel Terus Berjalan

foto: kalselprov.go.id
ket: Pengawasan kawasan rawan karhutla di sekitar Bandara Syamsudin Noor


BUNGKAM.COM, BANJARBARU - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai diperkuat dengan pola pengawasan yang lebih terukur. Satpol PP dan Damkar Kalsel menyesuaikan penempatan personel dan peralatan berdasarkan kondisi serta kebutuhan di masing-masing titik rawan.


Penyesuaian tersebut terutama dilakukan di kawasan ring 1 Bandara Syamsudin Noor. Selain memastikan kesiapan menghadapi kemunculan titik api, personel juga mendapat tugas menjaga kawasan yang sebelumnya telah dilakukan pemadaman dan pembasahan.


Kepala Satpol PP dan Damkar Kalsel, Dany Matera Saputra, melalui Kepala Seksi Operasional dan Pengendalian, Wahyu Setyo Utomo, mengatakan kekuatan personel tidak ditempatkan dengan pola yang sama setiap waktu. Komposisinya disesuaikan dengan situasi di lapangan.


“Kita menyesuaikan kekuatan personel dan unit yang ada di lapangan,” ujar Wahyu di Banjarbaru, Jumat (2/10/2026).


Menurut Wahyu, sejumlah lokasi masih menjadi perhatian, mulai dari jalur akses Bandara Lama yang terdapat kawasan Masjid Kapal, Pengayuan hingga Guntung Damar. Kawasan tersebut mendapat pengawasan karena memiliki potensi membutuhkan penanganan maupun dukungan suplai air.


Selain penyesuaian kekuatan pada siang hari, pengawasan juga diperkuat pada malam hari. Sekitar 20 hingga 25 personel dikerahkan untuk melakukan patroli, sementara pada pagi hari sekitar 50 personel disiagakan.


“Pasukan standby setelah 9 September kita lakukan penyesuaian. Untuk pagi sekitar 50 orang, sedangkan malam kita melaksanakan patroli sekitar 20 sampai 25 orang,” katanya.


Patroli malam dilaksanakan mulai pukul 21.00 hingga 24.00 WITA. Personel Satpol PP dan Damkar menjalankan patroli bersama Brimob dengan rute Guntung Damar hingga Sambang Lihum, termasuk kawasan ring 1 Bandara Syamsudin Noor.


Wahyu mengatakan tugas personel saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemadaman. Pengawasan terhadap lokasi yang sudah ditangani juga diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api.


“Satpol PP tidak hanya melakukan pemadaman dan pembasahan, tetapi juga ada tugas tambahan patroli dari pukul 21.00 sampai 24.00 WITA bersama Brimob,” terangnya.


Dari sisi dukungan peralatan, Satpol PP dan Damkar Kalsel memiliki 73 unit dompeng dan alkon. Sebanyak 60 unit masih digunakan untuk kegiatan di lapangan, sementara 13 unit lainnya dapat ditarik untuk memenuhi kebutuhan penanganan di lokasi berbeda.


Mobilisasi peralatan dilakukan secara dinamis mengikuti kebutuhan. Pola tersebut memungkinkan dukungan tidak terpusat pada satu kawasan ketika terdapat lokasi lain yang membutuhkan peralatan untuk penanganan karhutla.


Sementara itu, keberadaan personel di setiap posko turut dipantau melalui sistem pengabsenan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan anggota yang telah ditugaskan tetap berada di lokasi dan siap menjalankan penanganan apabila dibutuhkan.


“Pengabsenan dilakukan di setiap posko. Jadi kita memastikan personel yang ditugaskan memang berada di posko masing-masing dan siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelas Wahyu.


Kesiapsiagaan Satpol PP dan Damkar Kalsel masih dipertahankan hingga status siaga karhutla yang ditetapkan BPBD Kalsel berakhir pada 31 Oktober. Penempatan personel dan peralatan akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Post a Comment

أحدث أقدم