![]() |
| foto: kehutanan.go.id ket: Menteri Kehutanan Raja Antoni melakukan pengecekan kondisi orangutan di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah |
BUNGKAM.COM, PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya berdampak terhadap manusia dan lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan satwa liar, khususnya orangutan.
Mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memperkuat kerja sama penyelamatan satwa liar di wilayah Kalteng.
Penguatan dilakukan Kementerian Kehutanan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan sejumlah organisasi konservasi, termasuk Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI), serta OFI UK.
Menteri Kehutanan Raja Antoni menegaskan, Satgas Penyelamatan Satwa Liar yang diperkuat tersebut bukan merupakan organisasi baru.
Langkah ini merupakan penguatan dari kerja sama yang selama ini telah berjalan antara pemerintah dan lembaga konservasi.
“Satgas yang ada selama ini kita perkuat kembali, jadi Satgas Penyelamatan Satwa Liar di Kalimantan Tengah. Jadi ini bukan Satgas baru, kerja sama seperti yang saya katakan tadi sudah lama terjadi, tapi kita perkuat,” ujar Raja Antoni usai melakukan pengecekan orangutan di Nyaru Menteng, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Raja Antoni, penguatan tersebut diperlukan karena karhutla memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kerusakan kawasan.
Asap yang muncul dari kebakaran juga dapat mengganggu kondisi kesehatan satwa, terutama orangutan yang berada di sekitar wilayah terdampak.
Karena itu, kesiapan penanganan medis menjadi salah satu perhatian dalam penguatan satgas. Pemerintah memastikan ketersediaan dokter hewan di lapangan dan membuka kemungkinan menambah tenaga medis dari luar Kalimantan Tengah apabila kapasitas yang tersedia belum mencukupi.
“Kalau kurang nanti kita juga bisa kirimkan, di-BKO-kan dari Jawa atau dari tempat lain untuk membantu teman-teman di sini,” kata Raja Antoni.
Selain tenaga medis, peralatan penunjang juga disiapkan untuk menghadapi kemungkinan gangguan kesehatan akibat paparan asap. Tabung oksigen dan nebulizer menjadi bagian dari perlengkapan yang dapat digunakan untuk membantu orangutan yang mengalami gangguan pernapasan.
Kesiapan tersebut menjadi penting mengingat dampak karhutla terhadap satwa dapat terjadi meskipun satwa tidak berada tepat di lokasi kebakaran. Paparan asap dan menurunnya kualitas habitat dapat memengaruhi kesehatan serta keselamatan satwa liar.
Raja Antoni mengatakan upaya penyelamatan satwa akan berjalan beriringan dengan penanganan sumber persoalan, yakni pencegahan dan pemadaman karhutla.
Pemerintah bersama unsur terkait terus berupaya agar kebakaran maupun asap tidak meluas dan semakin mengancam habitat satwa.
“Selain berusaha memadamkan apinya, mencegah asapnya, tentu ini tadi, bekerja sama lebih erat lagi, berkolaborasi lagi, agar tadi tidak menimpa banyak orangutan kita di Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Penguatan Satgas Penyelamatan Satwa Liar tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi dampak karhutla. Pemerintah, BKSDA, organisasi konservasi, tenaga medis, dan pihak terkait lainnya diharapkan dapat bergerak cepat ketika ditemukan satwa yang membutuhkan pertolongan.
Dengan penguatan koordinasi, personel, serta dukungan medis, pemerintah berharap risiko terhadap populasi orangutan dapat ditekan.
Upaya tersebut dilakukan agar penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga memastikan satwa liar dan ekosistem yang terdampak mendapat perlindungan.

إرسال تعليق