![]() |
| foto: kehutanan.go.id ket: Tim gabungan melakukan penanganan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat |
BUNGKAM.COM, LOMBOK TIMUR – Keselamatan personel menjadi perhatian utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Resor Sembalun, SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Penanganan karhutla membutuhkan respons cepat dan kerja bersama. Kami mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang bergerak bersama di lapangan,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Budhy Kurniawan.
Ia menjelaskan, penanganan kebakaran tidak berhenti setelah kobaran api berhasil dikendalikan.
Pemantauan dan penyisiran atau mopping up tetap dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara maupun titik api yang berpotensi kembali menyala.
“Setelah api berhasil dikendalikan, pemantauan dan mopping up tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang kembali menyala,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara petugas taman nasional, aparat keamanan, masyarakat, pelajar yang sedang menjalani praktik kerja lapangan, hingga unsur pemadam kebakaran menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan.
Kolaborasi tersebut juga dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja seluruh personel.
“Kami akan terus melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan seluruh titik api dan bara benar-benar padam,” tegasnya.
Adapun kebakaran pertama kali diketahui setelah masyarakat melaporkan adanya titik api pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 16.48 WITA.
Petugas Resor Sembalun bersama siswa PKL SKMA kemudian melakukan pengecekan dan menemukan tiga titik api aktif di kawasan Maletan.
Dalam penanganan awal, sekitar 22 personel yang terdiri dari petugas TNGR, Masyarakat Mitra Polhut, masyarakat, siswa PKL SKMA, Polsek Sembalun, Koramil Sembalun, serta Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur dikerahkan ke lokasi.
Tim melakukan konsolidasi sekaligus menyiapkan berbagai peralatan untuk mengendalikan dan memadamkan api.
Namun, kondisi lapangan dan perkembangan kobaran yang masih dinamis membuat petugas harus mempertimbangkan faktor keselamatan sebelum melanjutkan operasi.
Sekitar pukul 19.00 WITA, tim memutuskan kembali ke pos sesuai dengan standar operasional prosedur keselamatan petugas pemadaman.
Perkiraan awal menunjukkan areal terdampak mencapai sekitar 30 hektare, meski angka tersebut masih dalam proses konfirmasi, dengan vegetasi yang terbakar didominasi semak, perdu, dan liana.
Pemantauan perkembangan api tetap dilakukan menggunakan drone. Pada Jumat malam, upaya pengendalian juga diperkuat oleh Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur bersama Polsek Sembalun dan Koramil Sembalun yang mengerahkan mobil pemadam kebakaran.
Operasi kemudian dilanjutkan pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 00.15 WITA. Tim gabungan yang dipimpin Kapolres Lombok Timur bersama Kepala SPTN Wilayah II bergerak menuju lokasi kebakaran di Dalem Petung dengan melibatkan 35 personel.
Personel yang terlibat dalam operasi lanjutan berasal dari Balai TNGR, Polres Lombok Timur, Polsek Sembalun, Balai Dalkarhut Seksi III Mataram, serta siswa PKL SKMA. Sekitar pukul 01.30 WITA, api berhasil dikendalikan dan tidak ditemukan lagi titik api aktif berdasarkan pemeriksaan di area penanganan.
Setelah api terkendali, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi.
Penyisiran dilakukan untuk menemukan sisa material atau bara yang masih berpotensi memicu kebakaran kembali.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari proses pemadaman karena titik api yang terlihat padam masih dapat menyisakan bara di sejumlah material yang mudah terbakar.
Pemantauan lanjutan juga dilakukan untuk memastikan kondisi kawasan benar-benar aman.
Balai TNGR memastikan pemantauan lapangan akan terus dilakukan sebagai langkah antisipasi. Masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani juga diminta ikut berperan dalam mencegah kebakaran.
Masyarakat diimbau segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran maupun aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di dalam atau sekitar kawasan taman nasional.
Dengan respons cepat, koordinasi lintas unsur, serta pemantauan berkelanjutan, penanganan karhutla di kawasan Resor Sembalun diharapkan dapat mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan hutan lainnya.

إرسال تعليق