Sinarmas Group Perkuat Penanganan Karhutla Banjarbaru dengan Sumur Bor dan Teknologi Satelit

Foto: kalselprov.go.id
Ket: Sinarmas Group

BUNGKAN.COM, BANJARMASIN – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan membutuhkan upaya berkelanjutan, terutama pada kawasan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.


Menjawab tantangan tersebut, Sinarmas Group memperkuat dukungan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) melalui pengerahan personel, penyediaan peralatan pemadam, pembangunan sumur bor, hingga pemanfaatan teknologi pemantauan.


Direktur Sinarmas Group, Nurhadi, menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan dalam penanganan karhutla di Banjarbaru telah berjalan sejak 18 Agustus 2026. 


Dukungan itu merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat dan Gubernur Kalimantan Selatan agar penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama.


Menurutnya, perusahaan berupaya memberikan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan, mulai dari tenaga operasional hingga sarana untuk menunjang pemadaman dan pendinginan lahan.


“Kami berupaya mengambil bagian dalam penanganan karhutla di Banjarbaru sejak Agustus lalu. Dukungan ini kami arahkan untuk membantu pemerintah daerah mempercepat pemadaman, sekaligus memastikan proses pendinginan lahan bisa dilakukan secara optimal,” ujar Nurhadi di Banjarmasin, Jumat (9/10/2026).


Ia menjelaskan, tim perusahaan ditempatkan di sejumlah kawasan yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, antara lain Guntung Damar, Pengayuan, dan kawasan hutan lindung. 


Secara keseluruhan, sekitar 50 hingga 60 personel dari sejumlah unit usaha dikerahkan untuk membantu kegiatan di lapangan.


Salah satu dukungan yang disiapkan berada di kawasan Guntung Damar. Di lokasi tersebut, Sinarmas Group membangun tiga sumur bor dengan kedalaman berkisar 30–40 meter untuk menyediakan sumber air bagi petugas pemadam.


Ketersediaan sumber air dinilai penting dalam menghadapi kebakaran gambut, terutama ketika petugas harus melakukan penyiraman berulang untuk memastikan bara api benar-benar padam.


Selain itu, perusahaan mitra, termasuk PT Aneka, turut membantu penyediaan pompa air guna menunjang distribusi air ke lokasi kebakaran.


“Untuk mendukung petugas di lapangan, kami tidak hanya mengandalkan personel, tetapi juga menyiapkan infrastruktur air dan peralatan pendukung. Harapannya, kebutuhan pemadaman dan pendinginan dapat terpenuhi dengan lebih baik,” jelasnya.


Nurhadi menyebut kondisi kebakaran saat ini menunjukkan perkembangan dibandingkan situasi pada pertengahan Agustus. 


Kendati demikian, kemunculan asap di sejumlah titik masih menjadi perhatian, terutama pada kawasan gambut yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

Untuk meningkatkan efektivitas pemadaman, perusahaan juga menggunakan cairan surfaktan sebagai salah satu pendukung penanganan kebakaran gambut. 


Penggunaannya ditujukan untuk membantu proses pembasahan material yang terbakar sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan air.


“Dalam penanganan gambut, tantangannya bukan sekadar memadamkan api yang terlihat. Pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh agar bara yang masih tersisa tidak kembali memicu kebakaran. Karena itu, kami juga memanfaatkan surfaktan untuk membantu proses pemadaman,” ungkap Nurhadi.


Di luar dukungan terhadap operasi pemadaman bersama pemerintah daerah, perusahaan tetap menjalankan pengawasan kebakaran di wilayah konsesinya. Sekitar 300 personel disiagakan selama 24 jam untuk mendukung pemantauan, pencegahan, dan pengendalian kebakaran.


Pengawasan tersebut diperkuat dengan pemanfaatan teknologi satelit dan Automatic Weather System (AWS). Melalui sistem ini, perusahaan memantau perkembangan kondisi cuaca serta potensi titik panas sebagai bagian dari langkah deteksi dini.

Selain mengandalkan kesiapan personel dan teknologi, Sinarmas Group menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko karhutla. 


Perusahaan bersama pemerintah desa, kepolisian, dan unsur kehutanan setempat melakukan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran serta pentingnya menghindari pembakaran lahan.


Kegiatan edukasi tersebut juga menjangkau wilayah Riam Kiwa, Kabupaten Banjar. Pendekatan kepada masyarakat diperlukan untuk membangun pemahaman bahwa pencegahan kebakaran merupakan tanggung jawab bersama.


Nurhadi mengakui, pelaksanaan pemadaman terkadang menghadapi hambatan sosial, termasuk ketika ada warga yang menghalangi petugas saat berupaya memadamkan api. Situasi tersebut menjadi alasan pentingnya komunikasi dan pendekatan persuasif kepada masyarakat.


“Penanganan karhutla akan lebih efektif jika masyarakat turut mendukung langkah petugas. Kami terus mengedepankan sosialisasi dan komunikasi agar tumbuh kesadaran bersama untuk tidak melakukan pembakaran lahan,” katanya.


Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Rahmat Prapto Udoyo, mendukung penguatan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menghadapi karhutla.


Keterlibatan perusahaan dalam penyediaan personel, peralatan, serta dukungan teknis dinilai dapat membantu memperkuat kapasitas penanganan di lapangan. Kolaborasi tersebut juga penting untuk memastikan upaya pemadaman dan pendinginan berjalan berkesinambungan.


Dengan menggabungkan kesiapan operasional, dukungan infrastruktur air, teknologi pemantauan, serta edukasi masyarakat, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan diharapkan semakin efektif. 


Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah bersama untuk menekan risiko kebakaran berulang dan mengurangi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, serta aktivitas warga.

Post a Comment

أحدث أقدم