Tiga Chinook Jepang Perkuat Operasi Udara, Pengendalian Karhutla di Kalimantan Ditingkatkan

foto: kehutanan.go.id
ket: Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan terus diperkuat di sejumlah wilayah Kalimantan.

BUNGKAM.COM, JAKARTA - Kementerian Kehutanan memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dengan menambah dukungan operasi udara. Penguatan tersebut datang dari Pemerintah Jepang melalui tiga helikopter CH-47 Chinook yang kini telah tiba di Kalimantan Barat dan disiapkan untuk mendukung pemadaman melalui operasi water bombing.


Tiga helikopter milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) tersebut dibawa menggunakan kapal JMSDF JS Kunisaki yang telah tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat. Sebelum diterjunkan, armada tersebut menjalani tahapan persiapan teknis dan flight test untuk memastikan kesiapan serta keselamatan penerbangan.


Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel. Dalam pelaksanaannya, TNI menangani pengawasan operasional, termasuk aspek keamanan, flight clearance, dan penempatan Safety Officer, sedangkan misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.


Kehadiran Chinook diharapkan menambah kemampuan pemerintah dalam menjangkau wilayah kebakaran yang sulit ditangani melalui operasi darat. Dukungan tersebut akan diintegrasikan dengan armada udara yang sebelumnya telah disiagakan pemerintah di enam provinsi prioritas.


Sebelumnya, pemerintah telah menyiagakan 53 armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sementara 19 lainnya menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


Penguatan operasi udara dilakukan seiring masih tingginya aktivitas hotspot di sejumlah wilayah, khususnya Kalimantan. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat (11/9/2026) pukul 21.15 WIB, terdapat 688 hotspot high confidence secara nasional.


Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 569 titik.


Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Provinsi tersebut mencatat 271 titik, meningkat dari 96 titik pada pemantauan sebelumnya.


Kondisi serupa juga terlihat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan tercatat memiliki 47 hotspot high confidence, naik dari 9 titik, sedangkan Kalimantan Barat mencapai 51 titik dari sebelumnya 39 titik.


Sementara itu, kondisi di sejumlah wilayah Sumatera menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Sumatera Selatan mencatat 11 hotspot, turun dari 34 titik. Riau yang sebelumnya memiliki 18 titik dan Jambi dengan 2 titik kini sama-sama tercatat nihil hotspot high confidence.


Meski demikian, nihilnya hotspot pada suatu wilayah tidak serta-merta membuat penanganan dihentikan. Patroli dan pencegahan tetap dilakukan karena perkembangan karhutla sangat dipengaruhi kondisi cuaca, arah angin, kelembapan, serta ketersediaan bahan bakar di lapangan.


Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan secara otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu titik kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.


undcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan. Hasil verifikasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan pengerahan personel maupun armada pemadaman.


Di lapangan, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan.


Penanganan juga mendapat perhatian khusus pada wilayah gambut. Pemadaman dan pembasahan dilakukan secara berkelanjutan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.


Selain pemadaman, pemerintah tetap mengandalkan OMC untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan wilayah terdampak. Pengerahan armada udara maupun pelaksanaan OMC disesuaikan dengan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta faktor meteorologis.


Di sisi lain, dampak karhutla terhadap kualitas udara masih menjadi perhatian. Pemantauan PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi, mulai dari kategori baik hingga sedang, sementara sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, pada beberapa bagian Kalimantan masih terpantau kategori berbahaya.


Kondisi tersebut juga terlihat dari jarak pandang yang masih berubah-ubah. Pada 11 September, BMKG mencatat kondisi udara di kawasan Pelabuhan Dwikora, Pontianak, sempat kabur dengan jarak pandang sekitar 1–3 kilometer pada beberapa periode pengamatan.


Di Banjarmasin, kondisi udara juga sempat kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer pada awal periode, sebelum kemudian membaik hingga sekitar 10 kilometer seiring perubahan kondisi cuaca.


Jarak pandang dan kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan titik kebakaran. Oleh sebab itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan data hotspot, tetapi juga mempertimbangkan kondisi api, sebaran asap, kualitas udara, cuaca, dan hasil pemantauan di lapangan.


Penguatan operasi udara melalui dukungan tiga Chinook Jepang menjadi bagian dari upaya mempercepat pengendalian karhutla sekaligus memperluas kemampuan pemadaman pada wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.


Di tengah penanganan yang terus diperkuat, masyarakat juga diminta berperan dalam mencegah munculnya titik api baru dengan tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan cara membakar. Setiap temuan asap, titik api, maupun indikasi kebakaran diharapkan segera dilaporkan agar dapat ditangani sedini mungkin.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama