Rp98 Miliar Disiapkan untuk Embung, Banjarmasin Kejar Cadangan Air Baku Jangka Panjang

foto: humas pemko
ket: Pemerintah menyiapkan kawasan Pematang Panjang sebagai lokasi pengembangan cadangan air baku Banjarmasin.

BUNGKAM.COM, BANJARMASIN – Rencana pembangunan cadangan air baku untuk Kota Banjarmasin tidak hanya membutuhkan kesiapan lahan, tetapi juga dukungan investasi yang cukup besar.


Pemerintah Kota Banjarmasin kini mematangkan rencana pembangunan embung di kawasan Pematang Panjang, Kabupaten Banjar, yang diproyeksikan menjadi salah satu sumber cadangan air baku untuk kebutuhan jangka panjang.


Wali Kota Banjarmasin H.M. Yamin HR mengatakan, kebutuhan investasi yang besar membuat pembangunan infrastruktur tersebut perlu dibahas bersama sejumlah pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan pemerintah pusat.


“Alhamdulillah, Pak Gubernur memberikan perhatian. Air baku ini memang harus kita pikirkan untuk jangka panjang,” kata Yamin, Senin (28/9/2026).


Menurutnya, Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin telah memberikan respons positif terhadap rencana penyediaan embung atau cadangan air tersebut.


“Pak Gubernur sangat merespons baik untuk kita memiliki embung atau cadangan air di Kota Banjarmasin,” ujarnya.


Rencana embung tersebut berada di kawasan Pematang Panjang dengan dukungan lahan sekitar 150 hektare. Dari lahan itu, sekitar 30 hektare direncanakan menjadi area embung.


Dengan luasan tersebut, kapasitas tampung awal yang diproyeksikan mencapai sekitar 1,1 juta meter kubik air.


Untuk pembangunan fisik embung, estimasi awal kebutuhan anggaran berada di kisaran Rp98 miliar. Namun, angka tersebut belum menjadi nilai akhir karena masih harus melalui kajian teknis serta pembahasan mengenai skema pembiayaan.


Kebutuhan anggaran juga muncul pada pembangunan jaringan perpipaan yang nantinya berfungsi menghubungkan sumber air baku dengan fasilitas pengolahan air di Banjarmasin.


Salah satu skenario yang dibahas adalah pembangunan pipa sepanjang sekitar 8,7 kilometer dengan diameter 800 milimeter dari IPA 2 Pramuka menuju intake Pematang Panjang. Investasi untuk skenario tersebut diperkirakan sekitar Rp136 miliar.


Alternatif lainnya menggunakan pipa berdiameter 1.200 milimeter dari kawasan Gubernur Subarjo menuju IPA 2 dengan estimasi investasi sekitar Rp200 miliar.


“Seluruh angka tersebut masih berada pada tahap pembahasan awal sehingga belum menjadi nilai proyek final,” jelas Yamin.


Besarnya kebutuhan pembiayaan tersebut membuat Pemko Banjarmasin tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber anggaran. Karena itu, pembahasan diarahkan pada pola kolaborasi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, Balai Wilayah Sungai, pemerintah pusat, dan PT Air Minum Bandarmasih.


Selain persoalan pendanaan, pemerintah juga masih perlu mematangkan desain teknis, kapasitas infrastruktur, jalur perpipaan, pembagian kewenangan, hingga tahapan pelaksanaan pembangunan.


Di sisi lain, Direktur Utama PT Air Minum Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan keberadaan infrastruktur cadangan air baku diperlukan untuk menjaga keberlanjutan sistem pelayanan air bersih.


Menurutnya, ketergantungan terhadap kondisi sumber air sungai dapat menjadi tantangan ketika debit menurun dan kadar garam meningkat akibat intrusi air laut.


“Penguatan infrastruktur air baku diperlukan agar pelayanan air bersih tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi sumber air sungai saat kemarau,” ujarnya.


Karena itu, keberadaan embung nantinya tidak berdiri sendiri. Infrastruktur tersebut perlu terintegrasi dengan jaringan pengambilan dan penyaluran air menuju sistem pengolahan milik PT Air Minum Bandarmasih.


Pemko Banjarmasin selanjutnya akan melanjutkan pembahasan bersama pihak terkait untuk menentukan skema pembangunan yang sesuai, termasuk sumber pembiayaan dan pembagian peran masing-masing pihak.


Jika terealisasi, Embung Pematang Panjang akan menjadi bagian dari pengembangan sistem air baku Banjarmasin untuk memenuhi kebutuhan pelayanan air bersih dalam jangka panjang.

Post a Comment

أحدث أقدم