200 Personel dan Puluhan Pompa Dikerahkan Tangani Karhutla Guntung Damar

foto: Kalselprov.go.id
ket: Karhutla Guntung Damar

BUNGKAM.COM, BANJARBARU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, dilakukan dengan strategi yang menyesuaikan kondisi di lapangan.


Puluhan mesin pompa tidak seluruhnya dioperasikan secara bersamaan selama 24 jam, melainkan difokuskan pada titik yang masih membutuhkan pemadaman dan pembasahan.


Plt. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Endarto, mengatakan pola tersebut diterapkan untuk menjaga efektivitas penanganan sekaligus menghemat penggunaan bahan bakar dan peralatan.


“Kita upayakan ini 24 jam, tapi tentu ada beberapa mesin yang harus kita matikan karena kita harus melihat efektivitas. Seperti di sini relatif sudah terendam, yang di sebelah sana juga relatif sudah terendam,” ujar Endarto di Banjarbaru, Rabu (9/9/2026).


Ia menjelaskan, mesin yang berada di area yang sudah cukup basah atau terendam dapat dimatikan sementara. Pompa kembali diaktifkan apabila kondisi lahan membutuhkan pembasahan atau terdapat titik api yang kembali muncul.


Menurut Endarto, tidak semua lokasi membutuhkan perlakuan yang sama. Karena itu, pengoperasian pompa dilakukan berdasarkan prioritas titik yang masih menjadi sasaran penanganan.


“Yang 24 jam itu titik-titik yang memang harus kita sasar. Kalau sudah terendam, insyaallah tidak ada lagi. Kita harus menghitung secara efektif penggunaan mesin, kemudian bahan bakar dan lain sebagainya,” jelasnya.


Di kawasan Guntung Damar sendiri terdapat sekitar 35 unit pompa yang dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla. Jika ditotal dengan peralatan yang ditempatkan di lokasi lain, jumlah pompa yang dioperasikan mencapai sekitar 53 unit, ditambah sekitar 20 unit lainnya.


Selain mengandalkan peralatan, penanganan juga melibatkan ratusan personel gabungan. Sekitar 200 orang dikerahkan dari berbagai unsur, di antaranya Satpol PP dan Damkar sekitar 150 personel, ESDM dan relawan sekitar 30 orang, serta PUPR sebanyak 10 orang.


Namun, pola kerja personel juga dibedakan berdasarkan waktu. Aktivitas dengan pengerahan tenaga lebih besar dilakukan pada pagi hingga siang hari, sedangkan pada malam hari penanganan lebih banyak diarahkan pada pembasahan menggunakan pompa.


“Kurang lebih 200-an orang. Cuma yang paling maksimal di sini kerjanya pada saat pagi dan siang. Kalau malam kita lebih mengoptimalkan kepada pembasahan, pompa saja yang bekerja, karena secara tenaga kawan-kawan juga perlu diperhatikan,” tandasnya. 


Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan penanganan karhutla. Pembasahan pada malam hari menjadi bagian penting untuk menjaga lahan tetap lembap sekaligus mengantisipasi munculnya kembali api dari titik yang sebelumnya telah dipadamkan.


Dengan penyesuaian penggunaan pompa dan pembagian tugas personel, penanganan di Gunung Damar diharapkan dapat lebih terarah. Titik yang masih memiliki potensi api menjadi prioritas, sementara area yang telah basah tidak lagi mendapat perlakuan berlebihan.

Post a Comment

أحدث أقدم