Karhutla Masih Mengancam Kalsel, 13.726 Hotspot Terdeteksi hingga 28 Agustus

foto: kalselprov.go.id
ket: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan


BUNGKAM.COM,
 KALSEL – Sebaran titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Selatan menunjukkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai. Hingga 28 Agustus 2026, tercatat sebanyak 13.726 titik hotspot tersebar di sejumlah wilayah.


Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan terhadap perkembangan karhutla sepanjang 2026.


Selain tingginya jumlah hotspot, BPBD Kalsel mencatat terdapat 2.083 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 10.095,14 hektare selama periode 1 Januari hingga 28 Agustus 2026.


Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan tingginya sebaran hotspot membuat pemantauan di lapangan harus terus dilakukan. 


Data yang diperoleh digunakan untuk melihat perkembangan kondisi sekaligus menentukan langkah penanganan.


“Pemantauan terhadap kejadian karhutla terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di setiap wilayah. Data ini menjadi salah satu dasar dalam menentukan langkah pengendalian dan penanganan karhutla di Kalimantan Selatan,” kata Ronny, Sabtu (29/8/2026).


Berdasarkan data tersebut, Kabupaten Tapin menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling tinggi, yakni mencapai 3.942 titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan 2.143 titik dan Kabupaten Banjar sebanyak 2.078 titik hotspot.


Sementara dari sisi jumlah kejadian, Kota Banjarbaru mencatat angka tertinggi dengan 421 kejadian. Luas lahan yang terdampak di wilayah tersebut mencapai 1.547,19 hektare.


Kabupaten Banjar berada di posisi berikutnya dengan 389 kejadian. Namun, jika dilihat dari luasan lahan terdampak, Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan angka terbesar, mencapai 2.285,72 hektare.


Sejumlah wilayah lain juga masih mencatat kejadian karhutla. Kabupaten Tanah Laut misalnya, mengalami 329 kejadian dengan luas terdampak 1.805,05 hektare, sedangkan Barito Kuala mencatat 146 kejadian dengan luasan 860,7 hektare.


Di Hulu Sungai Utara terdapat 96 kejadian dengan luas lahan terdampak 517,85 hektare. Sementara Tanah Bumbu tercatat 58 kejadian dengan luasan 174,35 hektare.


Adapun Kabupaten Kotabaru mencatat 48 kejadian dengan luas 58,07 hektare, Tabalong 29 kejadian dengan 135,13 hektare, Balangan 56 kejadian dengan 183,57 hektare, dan Hulu Sungai Tengah 58 kejadian dengan 156,11 hektare.


Untuk Kota Banjarmasin, BPBD mencatat 13 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak relatif kecil, yakni 1,43 hektare.


Data hotspot yang digunakan BPBD Kalsel bersumber dari SIPONGI Kementerian Kehutanan dengan dukungan pemantauan satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP dan NASA-NOAA20. Pemantauan tersebut membantu pemerintah melihat indikasi titik panas di berbagai wilayah.


Ronny menilai tingginya aktivitas karhutla di sejumlah daerah menunjukkan pentingnya pengawasan secara berkelanjutan. Wilayah dengan jumlah kejadian maupun hotspot yang tinggi menjadi perhatian dalam menentukan prioritas pengendalian.


“Pengendalian karhutla membutuhkan pemantauan yang berkelanjutan dan penanganan secara terpadu. Setiap perkembangan di lapangan perlu menjadi perhatian agar potensi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.


Menurutnya, pembaruan data juga diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran kondisi terkini di lapangan. 


"Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan koordinasi dalam mengoptimalkan personel, peralatan dan sumber daya yang tersedia," tukasnya. 


BPBD Kalsel memastikan pemantauan akan terus dilakukan seiring masih adanya potensi karhutla di sejumlah wilayah. 


Pengendalian secara terpadu diharapkan dapat menekan perluasan kebakaran sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.


Dengan ribuan kejadian serta ribuan titik hotspot yang tercatat hingga akhir Agustus, penanganan karhutla masih menjadi salah satu fokus penting pemerintah daerah Kalimantan Selatan.

Post a Comment

أحدث أقدم