![]() |
| foto: mc Banjarbaru ket: Profesor Husaini dari Universitas Lambung Mangkurat |
GAUNGINDONESIA.ID, BANJARBARU – Potensi Super El Niño pada 2026 menjadi peringatan bagi Kalimantan Selatan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan, keterbatasan air bersih, penurunan produksi pangan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Profesor Husaini dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menilai dampak fenomena iklim tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dapat merambat ke berbagai sektor kehidupan. Ancaman tidak hanya berupa peningkatan suhu udara, tetapi juga gangguan terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, perubahan pola hujan dan kemarau berkepanjangan dapat memicu persoalan berantai, terutama ketika ketersediaan air berkurang dan produksi pangan terganggu.
“Super El Niño tidak merobohkan bangunan dalam semalam. Fenomena ini bekerja secara perlahan, menaikkan suhu beberapa derajat, memperpanjang kekeringan selama beberapa minggu, dan mengubah pola curah hujan ke wilayah lain,” kata Husaini di Banjarbaru.
Ia mengingatkan, dampak yang berlangsung secara bertahap kerap membuat masyarakat tidak menyadari besarnya risiko yang sedang berkembang. Padahal, akumulasi paparan panas, kekurangan air, dan gangguan pasokan pangan dapat meningkatkan ancaman terhadap keselamatan manusia.
Dari sisi lingkungan, kemarau panjang berpotensi memperbesar risiko karhutla, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pemantauan wilayah rawan, pengawasan titik api, serta pengelolaan sumber air untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Di sektor pertanian, berkurangnya ketersediaan air irigasi dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menekan hasil panen. Apabila produksi pangan menurun, masyarakat juga berpotensi menghadapi kenaikan harga bahan pokok yang berdampak lebih besar terhadap keluarga berpenghasilan rendah.
“Ketika hasil panen menurun, air menjadi langka, dan harga pangan naik, dampaknya melampaui aspek ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Selain persoalan lingkungan dan pangan, Husaini menyoroti risiko kesehatan akibat suhu ekstrem. Paparan panas berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga sengatan panas yang berpotensi mengancam jiwa.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi lansia, anak-anak, ibu hamil, penderita penyakit jantung, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan suhu, kelembapan, dan pola curah hujan dapat memengaruhi dinamika penyebaran penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, pemantauan kesehatan masyarakat dan pemberantasan sarang nyamuk tetap perlu dilakukan bersamaan dengan upaya menghadapi perubahan kondisi iklim.
Husaini turut menyoroti besarnya potensi dampak panas ekstrem secara global. Ia mengutip laporan Reuters pada 2026 yang memuat perkiraan Climate Impact Lab dari Universitas Chicago, yakni potensi hingga 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia selama Juni 2026 hingga Februari 2027.
Untuk Indonesia, angka yang dikutip tersebut mencapai sekitar 19.300 kematian tambahan. Namun, angka itu merupakan proyeksi risiko, bukan jumlah kematian yang telah terkonfirmasi.
“Kita tidak boleh menunggu sampai orang mulai jatuh sakit dan angka kematian meningkat baru menyadari bahayanya. Ancaman ini perlu diidentifikasi sejak dini dengan menganalisis data iklim dan kondisi kesehatan masyarakat,” kata Husaini, yang juga menjabat Koordinator Kampus ULM Banjarbaru.
Menurutnya, langkah antisipasi perlu dilakukan secara terpadu melalui pemantauan kondisi iklim dan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pengamanan pasokan air bersih, penguatan kesiapan pangan, serta pencegahan karhutla.
Bagi Kalimantan Selatan, kesiapsiagaan menghadapi Super El Niño perlu diarahkan pada upaya mengurangi risiko sebelum dampaknya meluas. Koordinasi lintas sektor menjadi penting agar potensi gangguan lingkungan tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Husaini menegaskan, ancaman fenomena iklim tersebut tidak semata-mata diukur dari tingginya suhu udara, tetapi juga dari dampaknya terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, langkah pencegahan dan mitigasi perlu dipersiapkan lebih awal agar keselamatan dan kesejahteraan masyarakat tetap terlindungi.

Posting Komentar