![]() |
| foto: bungkam.com ket: Mukhyar saat menunggu perkembangan pencarian delapan anggota keluarganya di Posko Pelabuhan Trisakti Banjarmasin |
BUNGKAM.COM, BANJARMASIN – Penantian panjang masih dijalani Mukhyar di Posko Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Selama dua hari, ia menunggu kabar delapan anggota keluarganya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Delapan anggota keluarga Mukhyar merupakan bagian dari rombongan yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Pulau Jawa untuk berziarah Wali Songo.
Mereka berangkat menggunakan pesawat, kemudian memilih kapal laut untuk perjalanan pulang ke Banjarmasin.
Perjalanan menggunakan kapal tersebut menjadi pengalaman pertama bagi rombongan keluarganya. Namun, perjalanan pulang itu berubah menjadi musibah yang membuat Mukhyar bersama keluarga lain terus menunggu kabar dari tim pencarian.
“Kami masih menunggu kabar terbaru hari ini, tanggal 14 ini, apakah delapan orang keluarga kami ini ketemu atau bagaimana. Nama-nama keberangkatan mereka ada terdaftar di manifes, tetapi sampai saat ini belum ada yang ditemukan,” ujar Mukhyar saat ditemui di Posko Pelabuhan Trisakti, Senin (14/9/2026).
Di tengah penantian tersebut, Mukhyar tidak hanya berharap keluarganya segera ditemukan. Ia juga ingin ada kejelasan mengenai bagaimana sistem keselamatan kapal bekerja ketika kondisi cuaca mulai memburuk.
Menurutnya, informasi mengenai peringatan cuaca menjadi hal penting yang seharusnya diketahui penumpang agar mereka dapat mengambil langkah antisipasi sebelum kondisi semakin berbahaya.
“Kalau saya menilai, pelayanan kapal ini lalai. Warning system-nya tidak memberitahukan penumpang saat ada peringatan cuaca buruk,” katanya.
Mukhyar mengaku mendapat informasi bahwa peringatan cuaca buruk telah muncul sekitar pukul 22.30 Wita. Namun, menurut pengakuannya, penumpang tidak memperoleh pemberitahuan tersebut sehingga sebagian masih berada di dalam kamar ketika kondisi kapal mulai bermasalah.
Kondisi itu menjadi perhatian Mukhyar karena delapan anggota keluarganya berada di dalam kamar saat kejadian. Ia khawatir mereka tidak mengetahui perubahan kondisi kapal hingga akhirnya kapal mengalami kemiringan.
“Yang tahu kapal miring itu hanya penumpang yang kebetulan terbangun di luar. Sementara saudara-saudara saya ini mengambil kamar, mereka di dalam kamar semua,” jelasnya.
Selain mempertanyakan sistem peringatan kepada penumpang, Mukhyar juga menyoroti aspek muatan kapal. Ia berharap evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap keberadaan kendaraan dengan muatan berat yang dibawa bersama penumpang.
“Saya sangat menyayangkan hal ini. Harapan saya ke depannya jangan lagi ada muatan truk di atas 30 ton di dalam kapal penumpang, karena itu sangat mempertaruhkan keselamatan penumpang,” tegasnya.
Mukhyar juga meminta pencarian tidak berhenti pada pemeriksaan di sekitar kapal yang terbalik. Ia berharap tim SAR dapat memaksimalkan pemeriksaan hingga bagian dalam kapal karena masih ada kemungkinan penumpang berada di dalam kabin.
“Saya berharap pihak berwenang membantu mencari titik kebenaran. Kalau memang ada kelalaian, harus ditindak tegas,” pungkasnya.
Bagi Mukhyar, pencarian delapan anggota keluarganya menjadi prioritas utama. Namun bersamaan dengan itu, ia berharap seluruh rangkaian kecelakaan KM Virgo Transport 8 dapat diusut secara menyeluruh agar keluarga mendapatkan kepastian dan aspek keselamatan pelayaran ke depan dapat dievaluasi.
Pencarian dan evakuasi korban KM Virgo Transport 8 sendiri masih dilakukan tim SAR gabungan di lokasi kejadian. Sementara keluarga korban tetap menunggu perkembangan informasi dari posko penanganan di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Posting Komentar