136 Penumpang KM Virgo Transport 8 Masih Dicari, 107 Berhasil Dievakuasi, 6 Meninggal Dunia

foto: istimewa
ket: Konferensi Pers di Pelabuhan Trisakti

BUNGKAM.COM, BANJARMASIN – Operasi pencarian dan penyelamatan korban musibah KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa terus diperluas. 


Hingga Minggu (13/9/2026), sebanyak 107 penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara enam orang dinyatakan meninggal dunia dan 136 lainnya masih dalam pencarian.


Pemutakhiran data tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandy saat memantau langsung penanganan musibah bersama Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dari Posko SAR Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.


“Pertama-tama, atas nama pemerintah, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah kecelakaan laut yang menimpa kapal yang membawa 243 penumpang,” ujar Dudy di Pelabuhan Trisakti.


Dudy menjelaskan, dari total 243 penumpang yang terdata, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 107 orang dalam kondisi selamat dan menemukan enam korban meninggal dunia. Dengan demikian, masih terdapat 136 penumpang yang menjadi fokus pencarian tim SAR.


“Dari 243 penumpang, tim evakuasi atau tim SAR yang dipimpin oleh Basarnas telah berhasil mengevakuasi sejumlah 107 penumpang yang selamat dan 6 orang meninggal dunia, sehingga masih terdapat sekitar 136 penumpang dalam proses pencarian,” lanjutnya.


Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, kementerian dan lembaga terkait, tenaga kesehatan, operator kapal hingga potensi SAR lainnya. Dudy mengapresiasi gerak cepat seluruh unsur sejak laporan mengenai kondisi darurat kapal diterima.


“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada koordinator operasi SAR, TNI, Polri, kementerian/lembaga, tenaga kesehatan, operator kapal, serta seluruh unsur terkait yang telah bekerja cepat dalam operasi kemanusiaan ini,” tegasnya.


Sementara itu, Kabasarnas Mohammad Syafii memaparkan kondisi yang terjadi sebelum kapal mengalami situasi darurat. Menurutnya, kapal sebelumnya telah melaporkan kondisi cuaca yang tidak baik kepada perusahaan.


“Pada saat kapal mengalami kondisi menghadapi cuaca buruk, dari awal kapal sudah menyampaikan kepada perusahaan bahwa kapal menghadapi cuaca yang tidak baik. Kemudian beberapa jam berikutnya dilaporkan bahwa kondisi kapal mengalami perubahan center of gravity atau ada kemiringan dari pihak kapal,” terang Syafii.

Perubahan kondisi kapal tersebut kemudian diikuti dengan adanya permintaan bantuan. Kapal sempat memancarkan informasi darurat sebelum komunikasi akhirnya terputus.


“Pada saat itu di-broadcast bahwa kapal membutuhkan bantuan, dan dari kapal juga sudah mengaktifkan darurat berupa EPIRB yang ada di kapal untuk meminta bantuan,” katanya.


Dalam proses awal operasi, jarak menuju lokasi kejadian menjadi salah satu tantangan. Titik kejadian di perairan Laut Jawa membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam jika ditempuh dari Banjarmasin.


“Posisi lokasi kejadian kalau ditempuh dari Banjarmasin memakan waktu kira-kira 6 jam,” jelas Syafii.


Meski menghadapi kendala jarak, Kantor SAR Banjarmasin langsung melakukan analisis cepat dan melaporkan kondisi tersebut ke Basarnas Command Center. Status kedaruratan kemudian diteruskan kepada pengguna lalu lintas laut di kawasan Laut Jawa untuk membantu proses pertolongan.


Syafii menegaskan operasi pencarian dan pertolongan dilakukan dengan mengacu pada standar keselamatan maritim internasional. Basarnas juga mendapat dukungan dari TNI, Polri serta berbagai kementerian dan lembaga sesuai tugas masing-masing.


“Badan SAR Nasional mengacu kepada International Maritime Organization (IMO) Guideline dalam pelaksanaan operasi ini. Basarnas dibantu khususnya dari TNI, Polri, serta seluruh potensi dari kementerian dan lembaga sesuai fungsinya. Saat ini operasi sudah digelar dan sedang berlangsung,” pungkasnya.


Dengan masih adanya 136 penumpang dalam pencarian, operasi SAR terus dilanjutkan. Seluruh unsur gabungan dikerahkan untuk memperluas pencarian dan meningkatkan peluang menemukan korban yang masih belum diketahui keberadaannya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama